Sabtu, 26 Agustus 2017

ABU BAKAR AS-SHIDDIQ

Bismillahirahmani rahimi
ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ‏

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah
sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang paling
mulia, bahkan dikatakan ia
adalah manusia termulia setelah
para nabi dan rasul.
Keutamannya adalah sesuatu
yang melegenda, hal itu
diketahui oleh kalangan awam
sekalipun. Membaca kisah
perjalanan hidupnya seakan-
akan kita merasa hidup di dunia
hayal, apa benar ada orang
seperti ini pernah menginjakkan
kaki di bumi? Apalagi di zaman
kita saat ini, memang manusia
teladan sudah sulit terlestari.
Namun seiring pergantian masa
dan perjalanan hidup manusia,
ada segelintir orang atau
kelompok yang mulai mencoba
mengkritik perjalanan hidup Abu
Bakar ash-Shiddiq setelah Allah
dan Rasul-Nya memuji
pribadinya. Allah meridhainya
dan menjanjikan surga untuknya,
radhiallahu ‘anhu.

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻘُﻮﻥَ ﺍﻟْﺄَﻭَّﻟُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ
ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﻫُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ
ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ
ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﺗَﺤْﺘَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ
ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ
ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ

“Orang-orang yang terdahulu
lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan muhajirin
dan anshar dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka
dan merekapun ridha kepada
Allah dan Allah menyediakan
bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya.
Mereka kekal di dalamnya.
Itulah kemenangan yang
besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Kritik tersebut mulai
berpengaruh pada jiwa-jiwa yang
mudah tertipu, kepada hati yang
lalai, dan kepada pribadi-
pribadi yang memiliki hasad
kepada generasi pertama.
Kali ini kita tidak sedang
menceritakan kepribadian Abu
Bakar secara utuh, karena hal
itu sulit diceritakan di tulisan
yang singkat ini. Tulisan ini
akan menyuplikkan sebagian
teks-teks syariat yang
menjelaskan tentang kemuliaan
Abu Bakar.

Nasab dan Karakter Fisiknya
Nama Abu Bakar adalah
Abdullah bin Utsman at-Taimi,
namun kun-yahnya (Abu Bakar)
lebih populer dari nama aslinya
sendiri. Ia adalah Abdullah bin
Utsman bin Amir bin Amr bin
Ka’ab bin Sa’ad bin Ta-im bin
Murrah bin Ka’ab bin Luai bin
Ghalib bin Fihr al-Qurasyi at-
Taimi. Bertemu nasabnya dengan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pada kakeknya Murrah
bin Ka’ab bin Luai.

Ibunya adalah Ummu al-Khair,
Salma binti Shakhr bin Amir bin
Ka’ab bin Sa’ad bin Ta-im.
Dengan demikian ayah dan ibu
Abu Bakar berasal dari bani Ta-
im.

Ummul mukminin, Aisyah
radhiallahu ‘anhu menuturkan
sifat fisik ayahnya, “Ia seorang
yang berkulit putih, kurus, tipis
kedua pelipisnya, kecil
pinggangnya, wajahnya selalu
berkeringat, hitam matanya,
dahinya lebar, tidak bisa
bersaja’, dan selalu mewarnai
jenggotnya dengan memakai inai
atau katam (Thabaqat Ibnu
Sa’ad, 1: 188).

Adapun akhlak Abu Bakar, ia
adalah seorang yang terkenal
dengan kebaikan, keberanian,
sangat kuat pendiriannya,
mampu berpikir tenang dalam
keadaan genting sekalipun,
penyabar yang memiliki tekad
yang kuat, dalam
pemahamannya, paling mengerti
garis keturunan Arab, orang
yang bertawakal dengan janji-
janji Allah, wara’ dan jauh dari
kerancuan pemikiran, zuhud,
dan lemah lembut. Ia juga tidak
pernah melakukan akhlak-
akhlak tercela pada masa
jahiliyah, semoga Allah
meridhainya.

Sebagaimana yang telah
masyhur, ia adalah termasuk
orang yang pertama memeluk
Islam.
Keutamaan Abu Bakar
– Orang yang Rasulullah Percaya
Untuk Menemaninya Berhijrah
ke Madinah

ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﻩُ ﻓَﻘَﺪْ ﻧَﺼَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﺫْ
ﺃَﺧْﺮَﺟَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺛَﺎﻧِﻲَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﺇِﺫْ
ﻫُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻐَﺎﺭِ ﺇِﺫْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟِﺼَﺎﺣِﺒِﻪِ ﻟَﺎ
ﺗَﺤْﺰَﻥْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻌَﻨَﺎ

“Jikalau kamu tidak
menolongnya (Muhammad) maka
sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika
orang-orang kafir (musyrikin
Mekah) mengeluarkannya (dari
Mekah) sedang dia salah
seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada
temannya: “Janganlah kamu
berduka cita, sesungguhnya
Allah beserta kita”. (QS. At-
Taubah: 40)

Dalam perjalanan hijrah ini, Abu
Bakar menjaga, melayani, dan
memuliakan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia mempersilahkan Rasul untuk
beristirahat sementara dirinya
menjaganya seolah-olah tidak
merasakan letih dan butuh untuk
istirahat.

Anas bin Malik meriwayatkan
dari Abu Bakar, Abu Bakar
mengatakan, “Ketika berada di
dalam gua, aku berkata kepada
Rasulullah, ‘Sekiranya orang-
orang musyrik ini melihat ke
bawah kaki mereka pastilah kita
akan terlihat’. Rasulullah
menjawab, ‘Bagaimana
pendapatmu wahai Abu Bakar
dengan dua orang manusia
sementara Allah menjadi yang
ketiga (maksudnya Allah
bersama dua orang tersebut)’.
Rasulullah menenangkan hati
Abu Bakar di saat-saat mereka
dikepung oleh orang-orang
musyrikin Mekah yang ingin
menangkap mereka.
– Sebagai Sahabat Nabi yang
Paling Dalam Ilmunya
Abu Said al-Khudri mengatakan,
“Suatu ketika, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkhutbah di hadapan para
sahabatnya dengan mengatakan,
‘Sesungguhnya Allah telah
menyuruh seorang hamba untuk
memilih dunia atau memilih
ganjaran pahala dan apa yang
ada di sisi-Nya, dan hamba
tersebut memilih apa yang ada
di sisi Allah’.
Kata Abu Sa’id, “(Mendengar
hal itu) Abu Bakar menangis,
kami heran mengapa ia menangis
padahal Rasulullah hanya
menceritakan seorang hamba
yang memilih kebaikan.
Akhirnya kami ketahui bahwa
hamba tersebut tidak lain
adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sendiri. Abu
Bakar-lah yang paling mengerti
serta berilmu di antara kami.
Kemudian Rasulullah
melanjutkan khutbahnya,
“Sesungguhnya orang yang
paling besar jasanya dalam
persahabatan dan kerelaan
mengeluarkan hartanya adalah
Abu Bakar. Andai saja aku
diperbolehkan memilih kekasih
selain Rabbku, pasti aku akan
menjadikan Abu Bakar sebagai
kekasih, namun cukuplah
persaudaraan se-Islam dan
kecintaan karenanya.”
– Kedudukan Abu Bakar di Sisi
Rasulullah
Dari Amr bin Ash, Rasulullah
pernah mengutusku dalam
Perang Dzatu as-Salasil, saat
itu aku menemui Rasulullah dan
bertanya kepadanya, “Siapakah
orang yang paling Anda cintai?”
Rasulullah menjawab,
“Aisyah.” Kemudian kutanyakan
lagi, “Dari kalangan laki-
laki?” Rasulullah menjawab,
“Bapaknya (Abu Bakar).”
– Saat Masih Hidup di Dunia,
Abu Bakar Sudah Dipastikan
Masuk Surga
Abu Musa al-Asy’ari
mengisahkan, suatu hari dia
berwudhu di rumahnya lalu
keluar menemani Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abu Musa berangkat ke masjid
dan bertanya dimana Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dijawab bahwa Nabi keluar
untuk suatu keperluan. Kata
Abu Musa, “Aku pun segera
pergi berusaha menysulunya
sambil bertanya-tanya, hingga
akhirnya beliau masuk ke sebuah
kebun yang teradapat sumur
yang dinamai sumur Aris. Aku
duduk di depan pintu kebun,
hingga beliau menunaikan
keperluannya.
Setelah itu aku masuk ke kebun
dan beliau sedang duduk-duduk
di atas sumur tersebut sambil
menyingkap kedua betisnya dan
menjulur-julurkan kedua kakinya
ke dalam sumur. Aku
mengucapkan salam kepada
beliau, lalu kembali berjaga di
depan pintu sambil bergumam
“Hari ini aku harus menjadi
penjaga pintu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tak lama kemudian datanglah
seseorang ingin masuk ke kebun,
kutanyakan, “Siapa itu?” Dia
menjawab, “Abu Bakar.” Lalu
kujawab, “Tunggu sebentar.”
Aku datang menemui Rasulullah
dan bertanya padanya, “Wahai
Rasulullah, ada Abu Bakar
datang dan meminta izin
masuk.” Rasulullah menjawab,
“Persilahkan dia masuk dan
beritahukan padanya bahwa dia
adalah penghuni surga.”
Penutup
Demikianlah Abu Bakar ash-
Shiddiq dengan keutamaan-
keutamaan yang ada padanya.
Sebuah keistimewaan yang
mungkin tidak pernah terlintas
di benak kita, kita dijamin
surga, menjadi kekasih Rasul,
orang kecintaan Rasulullah, dan
sahabat dekatnya. Lalu
bagaimana bisa di hari ini ada
orang yang merendahkan
kedudukan beliau, setelah Allah
dan Rasul-Nya memuliakan dia?
Mudah-mudahan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menjauhkan kita dari sifat buruk
yang merendahkan wali-Nya,
menjadi musuh orang yang Dia
cintai. Semoga Allah meridhai
Abu Bakar ash-Shiddiq.
ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ
Semoga bermanfaat.
Sumber kisahmuslim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar